Pelupa


Siang itu, kami baru pulang dari suatu tempat. Aku lupa darimana, tapi yang jelas hari itu panas banget, dan kami semua udah capek. Sampai di rumah, Mama langsung berhenti di depan pintu.

“Eh, pintunya terkunci! Mana kunci ini? Siapa yang terakhir pegang?!” tanyanya sambil celingak-celinguk panik.

“Aku nggak pegang, Ma. Tadi katanya kuncinya sama Bibi,” jawabku sambil mengelap keringat.

Mama menghela napas cepat. “Ya udah, Ibu telepon Bibi dulu deh.”

Mama langsung sibuk mencari sesuatu di tasnya, lalu melirik ke kursi mobil, bahkan membongkar belanjaan.
“Handphone Ibu mana sih? Ada yang lihat nggak?” tanyanya sambil terus mengacak-acak isi tasnya.

Aku dan adikku otomatis ikut mencari. Aku periksa jok mobil, adikku sampai jongkok ngecek di bawah pintu mobil, kali aja jatuh. Tapi tetap nggak ketemu.

“Ibu, tadi terakhir kali handphone-nya taruh di mana?” tanyaku sambil berpikir keras.

“Kalau Ibu ingat, ya Ibu nggak nyuruh cari! Ayo cepat, ini penting! Ibu mau tanya Bibi soal kunci rumah!” Mama ngomel-ngomel sambil berdiri dengan ekspresi serius.

Tiba-tiba, aku menyadari sesuatu. Mataku terpaku ke tangan kanan Mama. Dia sedang memegang handphone itu, seperti orang mau nelpon! Tapi karena belum dipakai, kami semua nggak ngeh dari tadi.

“Ma...” kataku, mencoba memastikan.

“Apa?! Cepat cari, jangan bengong aja!” balas Mama dengan nada tak sabar.

Aku menunjuk ke tangannya. “Itu handphone-nya, Ma.”

Mama terdiam. Dia melirik ke tangan kanannya sendiri, lalu langsung ngakak.
“Ya ampun, ini dari tadi Ibu pegang!” katanya sambil menutupi wajahnya yang mulai merah.

Aku dan adikku ketawa ngakak.
“Dari tadi kita muter-muter nyari, ternyata handphone-nya udah siap buat nelpon!” ledek adikku.

Mama nyengir malu, lalu akhirnya benar-benar menelepon Bibi. Tapi sebelum itu, dia sempat bilang sambil tertawa, “Aduh, jangan cerita-cerita soal ini ke siapa-siapa, ya!”

Tapi ya, kejadian ini malah jadi bahan cerita sepanjang perjalanan kami ke dalam rumah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Syair Pendidikan

Ulasan Cerpen “Dilema Nara” Karya Alya Khalisah

Saat Senja Tak Lagi Sama