"Bukan Seperti Kakak"
oleh : Jenny Yelia Citra
"Bukan Seperti Kakak"
Di sebuah rumah sederhana di pinggir kota, tinggallah kakak beradik, Leo dan Marvel. Leo, si kakak yang selalu menjadi kebanggaan keluarga, dikenal pintar, rajin, dan pandai berinteraksi dengan siapa saja. Semua orang menyukai Leo. Setiap kali ada acara keluarga atau pertemuan dengan tetangga, Leo selalu menjadi pusat perhatian dengan senyumannya yang hangat dan pembawaannya yang ramah.
Sementara itu, Marvel, adiknya, juga tak kalah pintar dan rajin. Nilainya di sekolah hampir selalu sempurna, bahkan terkadang mengalahkan Leo. Namun, ada satu hal yang selalu membuat Marvel merasa berbeda—ia tidak suka berinteraksi dengan banyak orang. Marvel lebih suka menyendiri, asyik dengan dunia bacaannya, dan merasa lebih nyaman tanpa harus banyak berbicara.
"Marvel, bisa nggak sih kamu tersenyum sedikit? Coba bergaul sama teman-temanmu. Lihat kakakmu, dia bisa punya banyak teman karena dia ramah dan terbuka," kata ibu dengan nada kecewa suatu sore. Bukan sekali dua kali Marvel mendengar kata-kata itu. Setiap kali perbandingan itu muncul, hatinya semakin panas.Kata-kata itu seperti beban yang semakin menumpuk, membuatnya merasa tenggelam dalam bayangan kakaknya yang sempurna.
"Kenapa semua orang selalu membandingkan aku dengan kakak?"
suatu malam, Leo yang sedang berjalan menuju ke kamar nya tak sengaja mendengar adiknya yang sedang menangis dikamarnya. Kamar Marvel terasa sunyi, hanya suara hujan yang pelan terdengar dari jendela. Leo berdiri di ambang pintu, melihat adiknya duduk di meja belajar nya dengan kepala tertunduk. Dalam gelap, Leo bisa merasakan berat perasaan yang dipikul Marvel.
Leo menghampiri dan bertanya kepada nya, " Kenapa kamu sedih? Apa yang membuat mu sedih malam malam begini? "tanya Leo. Marvel yang mendengarnya pun menjawab " Aku lelah selalu dibanding terus dengan mu, aku tidak bisa kalau harus seperti kamu" jawab Marvel. Leo yang mendengar jawaban itu pun memahami perasaan adiknya dan menegaskan bahwa Marvel tidak perlu menjadi seperti dirinya untuk membuat orang bangga.
Mendengar kata kata kakaknya itu, marvel merasa lebih tenang, ia menyadari bahwa untuk membuat orang lain bangga ia tidak perlu menjadi kakaknya
Komentar
Posting Komentar